NASYIAH JAKSEL

NASYIATUL AISYIYAH JAKSEL merupakan sebutan bagi Pimpinan Daerah Nasyiatul Aisyiyah Jakarta Selatan periode 2004-2008. Ketua Umum : Isti Nurrohmah, S.Pd. Sekretaris Umum : Dini Wahdiyati R.S.Sos. Bendahara : Iis Balqis, SE. Alamat sekretariat : Jl. Tebet Timur Raya No. 565, Jakarta Selatan

Saturday, August 13, 2005

MENELUSURI KEADILAN TUHAN (BULETTIN NASYIAH AGUSTUS 2005)

Menelusuri Keadilan Tuhan

Oleh : Ust. H. Zuhdi Zaini, M.Ag.

Hari kamis itu, penyakit Nabi Muhammad Saw semakin parah. Namun ia adalah manusia suci yang memahami benar semua yang dialaminya. Dalam kondisi itu, Fatimah putrinya tercinta mendatangi beliau. Walaupun dalam keadaan sakit Rasulallah menyambut kedatangan buah hatinya dan Fatimah pun memegang dan menciup tangan mulia Rasulallah Saw. Saat itu Rasulallah memanggil Fatimah dan membisikkan sesuatu ke telinga putrinya. Mendengar bisikan itu ia pun menangis, namun tak beberapa lama, Rasulallah membisikkan lagi, kemudian Fatimah tersenyum. Aisyah, isteri Nabi Muhammad Saw bertanya kepada Fatimah, mengapa engkau menangis lalu tersenyum ? Fatimah menjawab: Pertama, ayahku membisikkan ditelingaku dan memberitahu bahwa beliau akan pulang keharibaan Allah Saw, aku pun menangis. Tak lama kemudian beliau membisikkan lagi dan memberitahu bahwa keluarganya yang pertama kali menyusul beliau adalah aku, dan aku pun tersenyum.
Di hari kamis itu, Rasulallah meminta kertas dan pena sambil berkata: Ambilkanlah untukku kertas dan pena aku akan menulis sesuatu untuk kalian agar kalian tidak tersesat. Umar membantah, tidak mau memberikan kertas dan pena, walaupun ia tahu yang memerintahkannya itu utusan Allah yang wajib ditaati. Bahkan ia berkata: cukup bagi kita kitabullah. Sesungguhnya Rasulallah sedang kalap dengan penyakitnya. Mendengar perkataan Umar, sahabat yang lain ada yang membantahnya, akhirnya terjadilah kegaduhan dihadapan Nabi Muhammad Saw, antara yang hendak memberi dan Umar yang melarangnya. Dalam kondisi itu Nabi bersabda: keluarlah kalian dari sini, tidak pantas dihadapanku kalian berlaku demikian.
Rasulallah Saw yang sejak awal mendakwahkan Islam, membimbing akhlak umat dan mengajarkan semua wahyu yang diturunkannya. Namun saat genting yakni ketika kematian menghampirinya, orang dekatnya seperti Umar membantah perintahnya. Padahal Allah berfirman: Siapa yang taat kepada Rasul berarti ia taat kepada Allah dan siapa yang membantah dan berpaling, maka tidak kami utus engkau sebagai pemelihara mereka [Qs al Nisa/4:80], Dalam ayat lain Allah berfirman: Hai orang-orang yang beriman taatlah kepada Allah, taatlah kepada Rasul dan pemimpin diantaramu. Dan jika terjadi perselisihan tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul-Nya. [QS. al Nisa/4:59]. Lalu apakah dengan pembantahan Umar berarti dakwah Nabi gagal ?. Dilihat dari prilaku Umar, Nabi mungkin dapat dikatakan gagal membimbing umat, tetapi menilai dakwah Nabi tidak dapat diukur hanya dengan prilaku Umar.
Jauh sebelum Islam menguasai Jazirah Arab, Nabi di Khodir Khum sudah mengingatkan bahwa pengganti dan penerus sesudahnya adalah Ali Ibn Abi Thalib. Semua jama'ah pada waktu itu menurut dan taat kepada Nabi Muhammad Saw dan berbaiat kepada Ali termasuk Abu Bakar dan Umar. Rasulallah Saw bersabda: Siapa yang menjadikan aku sebagai walinya atau pemimpinnya, maka inilah Ali pemimpin sesudahku. Namun putra Abu Thalib ini mengalami nasib yang tidak terlalu berbeda dengan yang dialami oleh Nabi Muhammad Saw. Saat Rasulallah Saw meninggal dunia, mayoritas umat meninggalkan rumah Nabi. Mereka berkumpul di Saqifah Bani Saidah bermusyawarah dan menunjuk Abu Bakar sebagai pengganti Rasulallah Saw dan melupakan baiat mereka di Khodir Khom. Ali tidak membaiat Abu Bakar sebagai khalifah, karena bertentangan dengan wasiat Rasulallah Saw, demikain juga Fatimah al Zahra. Rasulallah Saw bersabda: Siapa yang tidak mengenal imam zamannya, maka matinya bagai mati jahiliyah. Imam zaman sesudah Rasulallah adalah Ali ibn Abi Thalib berdasarkan nas-nas yang mutawatir. Oleh karena itu hingga wafatnya, yakni kurang lebih 6 bulan sesudah meninggalnya Rasulllah, Fatimah tidak berbaiat kepada Abu Bakar. Karena ia tahu imam zamannya adalah Ali ibn Abi Thalib. Putra Ka'bah, Ali ibn Abi Thalib dengan kecerdasannya yang gemilang dan sangat jenius disingkirkan dan keluarganya ditindas. Ali ibn Abi Thalib ia adalah Imam sekalipun tidak menjadi khalifah sesudah Nabi. Kepemimpinan Ali sesudah Rasulallah Saw tidak perlu mendapat restu dari masyarakat, karena yang memilihnya bukan rakyat melainkan Allah Swt. Imam pertama setelah mengalami goncangan dan cobaan bahkan fitnah, akhirnya meninggal dunia sebagai seorang syahid di Masjid saat mendirikan shalat subuh. Berita wafatnya Amirul Mukminin, Ali ibn Abi Thalib tersebar keseluruh penjuru negeri Islam, hingga tidak sedikit masyarakat yang heran, mengapa Ali ibn Abi Thalib meninggal di Masjid, bukankah menurut berita yang didengar dari penguasa bahwa Ali adalah orang kafir ? Pemutarbalikkan fakta dan kebenaran dilakukan oleh musuh-musuh Islam, hingga keluarga Nabi Muhammad Saw dikesankan sebagai orang yang tidak taat kepada khalifah sedangkan para penentang Islam, menghancurkan, menindas dan membunuh keluarga Nabi atas nama Islam. Apakah Ali ibn Abi Thalib gagal dalam melanjutkan risalah kenabian ? Mungkin gagal, tetapi syahidnya Imam Ali di Masjid bukan tanda kegagalan dakwahnya.
Seorang ibu melahirkan anaknya, buah hati belahan jiwa, disusui, dididik, dibesarkan dan dipelihara. Saat sang anak dewasa, ia membangkang dan durhaka kepada ibunya yang telah mengorbankan seluruh hidupnya untuk anak tercinta. Ibunda tidak kecewa apalagi marah, ia hanya berkata: Allah telah memerintahkan kepada manusia agar mengabdi kepada-Nya dan tidak mensekutukannya serta berbakti kepada kedua orang tuanya. Apabila engkau tidak berbakti kepadaku, itu bukan salahku. Aku telah membimbingmu dengan nasehat agama, ayat-ayat suci dan hadits mulia, namun hatimu lebih keras dari batu. Maka bukan aku yang engkau khianati, tetapi Allah yang maha pemberi. Demikian kata akhir sang ibu kepada anaknya. Apakah ibunda gagal mendidik anaknya ? mungkin iya, tetapi kegagalan seorang ibu tidak dapat hanya dilihat dari durhakanya seorang anak.
Seorang anak muda sedang minum-minuman keras di tempat gelap di pinggir jalan. Seorang guru ngaji melihatnya. Sang guru diam tidak berkata dan dengan tenang ia melanjutkan perjalanannya. Esok pagi buta, sepulang dari masjid, guru ngaji mendatangi rumah anak muda yang dilihatnya semalam dan berdialog dengan ayah sang pemuda. Setelah ngobrol tentang hidup, guru ngaji berkata kepada ayah pemuda tadi: Kalau bapak izinkan, anak bapak saya akan ajak ke rumah saya belajar ngaji setiap hari. Sang ayah senang luar biasa, tawaran mulia datang di waktu pagi. Sambil menatap wajah sang guru ngaji, ayah pemuda ini teringat ungkapan khatib Jum'at yang lalu bahwa apabila Allah hendak memberi petunjuk kepada seseorang, maka tidak akan yang sanggup menyesatkannya dan siapa yang disesatkan tak seorangpun mampu memberi hidayah kepadanya. Sang ayah memanggutkan kepala sebagai isyarat setuju, tawaran dari guru ngaji. Dengan izin Allah, sang pemabuk tobat dan belajar mengaji. Guru ngaji senang dan lebih senang lagi sang ayah. Namun, setelah beberapa tahun kemudian, setelah sang pemabuk menjadi guru ngaji, ia mendatangi guru ngajinya yang membimbingnya menjadi orang baik di mata masyarakat dan berkata: Engkau tidak berilmu dan engkau gagal dalam membangun umat disekitarmu. Sang guru tidak marah apalagi berlaku kasar. Dengan nada rendah ia berkata: kalau saya gagal, sekarang kamu pemabuk atau guru ngaji ? Sang murid diam dan pulang ke rumahnya, dengan terus menanamkan kebencian masyarakat kepada guru ngajinya. Apakah guru ngaji ini gagal, jawabnya mungkin, tetapi kegagalannya tidak dapat hanya diukur dengan kekurangajaran seorang murid.
Sejarah hidup kita berbeda, ada yang sukses secara materi ada pula yang kekurangan. Ada yang berhasil dalam kariernya, ada pula yang pengangguran, namun Tuhan tetap dalam keadilan-Nya. Namun sebagai manusia yang serba terbatas, kadang melihat sesuatu selalu dari sisi zahirnya, hingga kandungan hikmah tidak dapat tertangkap dengan baik. Ada beberapa hal yang dapat menjadi hijab dalam diri manusia dalam mencari hakikat sesuatu.
1. Keterbatasan ilmu pengetahuan dan informasi.
Ilmu itu merupakan cahaya yang dapat menerangi kegelapan. Ilmu itu pembimbing menuju kebenaran dan tanpa ilmu pengetahuan manusia akan tersesat dari tujuannya. Rasulallah Saw siapa yang beramal tanpa dilandasi ilmu, amalnya akan tertolak. Mengapa ? Karena orang yang beramal tanpa ilmu seperti orang yang pergi tanpa mengerti tujuan. Semakin cepat dia pergi semakin jauh dari tujuan yang sebenarnya. Suatu hari, Rasulallah Saw masuk ke masjid dan para jama'ah sedang mengerumuni seorang laki-laki. Lalu Nabi Muhammad bertanya, ada apa ? Salah seorang sahabat menjawab: Ada seorang alim yang mengetahui nasab bangsa arab, mengetahui sejarah bangsa dan serta syair-syair arab dengan baik. Rasulallah Saw bersabda: ilmu itu tidak mencelakakan seseorang bila ia tidak mengetahuinya dan tidak banyak manfaat bagi yang mengetahuinya. Dan ketahuilah, lanjut Rasul, sesungguhnya itu ilmu ada tiga yaitu pertama, ayat muhkamat artinya ilmu yang berkaitan dengan keyakinan seorang muslim Ayat yang menjelaskan tentang ushuluddin atau dasar-dasar agama itu terhampar di alam raya dan tercantum dalam kitabullah. Kedua, faridhat adilah artinya ilmu yang berkaitan dengan prilaku manusia tentang baik dan buruk. Atau disebut dengan ilmu akhlak. Ilmu ini akan membimbing dan menunjukkan manusia kepada kebaikan dan keburukan, kesesatan dan kebenaran, sunnah dan bid'ah dan sebagainya. Ia disebut adil artinya adil yaitu jalan diantara dua jalan ekstrim, ifrat dan tafrit. Dan ketiga sunnah qaimah artinya bimbingan praktis formal, seperti halal dan haram, boleh dan tidak boleh. Pendek kata ilmu ini membimbing manusia dalam hukum praktis yang sering disebut fiqh amaliah. Dengan ketiga ilmu ini, Islam membimbing tiga potensi manusia sekaligus yaitu dengan ayat muhkamat terbimbing akal dan pemikiran menuju kesempurnaan. Sebab dalam wilayah keyakinan atau ushuluddin seseorang tidak boleh bertaklid atau mengikuti pendapat siapapun. Dengan akalnya seseorang harus mengenal Tuhannya hingga mencapai keyakinan, bukan menurut pendapat orang lain. Melalui faridhat adilah, manusia dibimbing hati dan jiwanya menuju pensucian jiwa atau tazkiyat al nafs, karena setiap manusia berpotensi untuk berbuat positif [takwa] dan juga berbuat negative [fujur]. Dengan melakukan riyadhat al nafs atau pengolahan batin manusia akan selamat dari dua sisi ekstrim yaitu ifrat dan tafrit. Melalui sunnah qaimah, amaliah dan perbuatan manusia terbimbing dari prilaku yang melanggar ketentuan hukum, serta mengetahui hak dan kewajiban masing-masing. Pendek kata, melalui tiga ilmu yang disampaikan Nabi Muhammad Saw akan tercapai kesucian akal, kejernihan hati dan kebersihan amal. Orang yang tidak berilmu pengetahuan tidak akan mampu menelusuri kebenaran yang sesungguhnya, karena ia tidak mempunyai alat dan sarana untuk mencapai pintu kebenaran itu.
Suatu hari Nabi Musa as memohon kepada Tuhan agar ditunjukkan sebagian dari keadilan-Nya. Lalu Tuhan memerintahkan kepada Musa agar datang ke sungai yang ada di sebuah sahara. Musa dengan kesungguhannya mendatangi mata air itu. Sesampainya ditempat tujuan, ia menyaksikan seseorang yang sedang membuang hajat di sungai yang jernih itu dan ia lupa dengan perahu yang dibawanya. Beberapa saat kemudian datang anak kecil. Setelah melihat perahu ini, anak itupun mengambilnya dan ia tinggalkan sungai itu dengan cepat. Tak lama sesudah kepergian anak kecil itu, datang pula seorang buta yang berwudhu di sungai yang jernih itu. Setelah laki-laki itu selesai buang hajatnya, dia kehilangan perahunya dan ia hanya melihat si buta yang sedang berwudhu. Karena tidak ada orang lain selain si buta, laki-laki itupun menuduh si buta itulah pencurinya, hingga terjadi perkelahian yang menewaskan si buta. Nabi Musa terheran-heran dan bertanya, ada yang sedang terjadi dihadapannya. Lalu Allah mewahyukan dan menginformasikan bahwa laki-laki itu adalah pencuri perahu milik ayah anak kecil tadi dan hari ini hak anak kecil itu diberikan kembali dengan ditemukannya perahu ayahnya. Ini adalah keadilan pertama, seorang ahli waris mendapatkan warisannya. Keadilan kedua, Allah menginformasikan bahwa terbunuhnya si buta karena pada beberapa waktu yang lalu si buta membunuh ayah laki-laki itu. Dan keadilan ketiga, pencuri kehilangan hasil curiannya, yaitu perahu.
2. Keangkuhan dan kesombongan.
Suatu hari saat Nabi Musa hendak munajat kepada Tuhannya, ia berjumpa dengan iblis. Iblis menyapanya dan berkata: Hai Musa kalau kamu berjumpa dengan Tuhan, tolong tanyakan apakah Allah memerima tobatku apabila aku bertobat. Musa menjawab: InsyaAllah pesanmu akau sampaikan kepada Allah Swt. Setelah Musa setelah bermunajat, ia kembali ke rumahnya. Sebelum berangkat Tuhan bertanya- padahal Dia Maha Tahu- apakah ada pesan yang perlu disampaikan kepada-Ku ? Musa tersadar dan berkata: Ya Allah aku berjumpa dengan Iblis dan dia ingin bertobat kepada-Mu, apakah Engkau menerimanya ?. Allah berfirman: Kalau mau tobat sujudlah kepada kubur Nabi Adam. Setelah berita ini disampaikan kepada Iblis. Dengan marah yang menyala-nyala ia berkata: Ketika Adam masih hidup saja aku tidak rela sujud kepadanya, apalagi kini sudah mati dan aku harus sujud kepada kuburnya ? Aku tidak mau. Iblis tidak jadi tobat.
Mengapa Iblis dilaknat Tuhan, apakah ia tidak percaya adanya Allah ? apakah ia tidak tahu bahwa Allah Maha Pengasih sekaligus Maha Keras Siksanya ? Iblis pasti tahu semua, namun yang menutupi itu semua adalah keangkuhan dan kesombongannya. Ia berkata: Aku lebih baik dari Adam, aku diciptakan dari api sedang dia diciptakan dari tanah. Nabi Saw mengingatkan siapa yang sedikit saja ada kesombongan dalam hatinya, niscaya tidak akan masuk ke surga.
Saat Rasulallah Saw menyampaikan pesan Allah kepada umat bahwa pemimpin sepeninggalnya adalah Ali bn Abi Thalib di Ghadir Khom. Berita ini pun menyebar keseluruh pelosok negeri menjadi buar bibir. Datang menghadap Rasulallah Saw Nukman ibn al Harits al Zuhri berkata: Engkau memerintahkan kepada kami agar mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah Rasulallah, engkau juga memerintahkan kami berjihad, haji, puasa, shalat dan zakat, semua kami terima. Tetapi kemudian mengapa engkau belum juga puasa, hingga engkau mengangkat anak kecil ini [Ali ibn Abi Thalib]sebagai penggantimu dan engkau berkata: Siapa yang menjadikan aku sebagai pemimpinnya, maka inilah Ali pemimpin sesudahku. Apakah ini kemauanmu atau perintah Allah. Nabi Muhammad Saw menjawab: Tidak, Demi Allah yang tidak ada Tuhan kecuali Dia, ini adalah perintah Allah. Namun Nukman tetap angkuh dan sombong lalu berkata: Ya Allah seandainya ini benar dari sisi-Mu, maka turunkanlah kepada kami hujan batu, Lalu Allah pun menurunkan hujan batu diatas kepalanya hingga ia tewas.[tafsir nur al Tsaqalain, jilid5, hal. 411]
Al Qur'an mengingatkan kita bahwa Nabi Muhammad Saw adalah maksum terpelihara dari segala dosa, maksiat dan khilaf. Ia tidak akan berkata kecuali berdasarkan wahyu yang diturunkan kepadanya. Apakah Nukmat tidak tahu ayat ini ? Jawabnya, pasti tahu. Lalu mengapa ia membangkang perintah Rasulallah Saw ? Karena di hatinya tersimpan keangkuhan dan kesombongan.
Ketika Fir'aun dan para pembesarMesir sedang dudukdi istana, Nabi Musa datang ke istana. Sambil melirik ke arah Nabi Musa, Fir'aun berkata: Apakah kamu Musa ? Musa menjawab: Ya Aku adalah Musa, utusan Allah kepada manusia, kedatangan saya ke sini untuk mengajakmu kepada hidayat Tuhan. Fir'aun tertawa terbahak-bahak dan berkata: Apakah ada Tuhan selain aku ? Lalu siapa Tuhanmu ? Ada, Tuhanku adalah Tuhan yang menciptakan langit, bumi, kamu dan bapakmu bahkan semua yang ada ini adalah ciptaan Tuhhanku. Fir'aun pura-pura tidak memahami perkataan orang yagn ada disekitar itu berkata: kalau begitu Negara Mesir yang besar ini punya siapa ? Kalau begitu saya bukan tuhan kalian ?Kalau begitu saya bukan pemberi rizki bagi kalian ? Apakah selain kepada saya, adakah diantara kalian yang membutuhkan tuhan Musa ?
Musa dengan tenang dan sabar berkata: Hai rakyat kalian sesudah hidup di dunia ini pasti akan menuju ke alam akhirat, disana ada kehidupan lain, kehidupan sesudah hari ini. Hendaklah kalian beramal shalih agar kehidupan kalian kelak memperoleh kebahagiaan, selain Tuhan, di dunia ini tidak ada seorang pun yang dapat memberikan kebahagiaan. Semua alam raya ini diciptaka oleh Tuhan dan aku adalah utusan-Nya. Aku datang kepada kalian membawa berita dari Tuhanku Aku datang membawa perintah Tuhan agar kalian semua dapat mencapai kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat.
Dengan kemunkarannya Fir'aun berkata semua rakyatnya: Kwetahuilah oleh kalian bahwa aku adalah Tuhan tertinggi. Namun saat Fir'an diambang kematian terombang-ambing di laut, dalam keadaan syakaratul maut ia berkata: Aku beriman kepada Tuhannya Musa. Inilah satu dari ciptakan Tuhan yang didalam hatinya tersimpan keangkuhan dan kesombongan dan akhirnya harus mengakui ketuhanan Musa disaat pintu tobat sudah tertutup.
3. Cinta dunia.
Suatu hari seorang laki-laki mendatangi Abu Dzar dan bertanya: Hai Abu Dzar mengapa kita membenci kematian ? Abu Dzar menjawab: Karena kamu memakmurkan duniamu dan merobohkan akhiratmu, tentu kamu akan benci pindah dari kondisi yang makmur kepada kondisi yang porak-poranda. Bagaimana pendapatmu kita berjumpa dengan Allah ? tanya laki-laki tadi. Orang yang baik bertemu dengan Allah seperti orang yang hilang kembali ke pangkuan keluarganya sedangkan orang yang berbuat dosa seperti budak yang lari dari tuannya kemudian dikembalikan kepada tuannya. Demikian penjelasan Abu Dzar. Laki-laki itu bertanya lagi:" Bagaimana keadaan kita disisi Allah ? Abu Dzar menjawab: Perhatikanlah amalmu dalam al Kitab. Allah berfirman: Sesunggguhnya orang-orang yang baik tempatnya dalam kenikmatan sedangkan orang-orang yang berbaut dosa tempatnya di neraka Jahanam. Dimana rahmat Tuhan itu ? Tanya laki-laki itu. Sesungguhnya rahmat Allah itu dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.
Dunia itu bagaikan air laut setiap kali diminum, haus semakin bertambah dan berakhir kepada kematian. Suatu hari Nabi Muhammad Saw keluar dalam keadaan duka, lalu malaikat menghampirinya sambil membawa kunci kekayaan bumi dan berkata: Ini adalah kunci kekayaan bumi dan Tuhanmu berfirman: bukalah dan ambillah dari bumi ini apa saja yang engkau kehendaki tanpa sedikitpun akan mengurangi apa yang ada disisi-Ku. Rasulallah bersabda: Dunia adalah rumah bagi mereka yang tidak mempunyai rumah dan disana berkumpul orang-orang yang tidak berakal. Malaikat berkata: Demi Allah yang telah mengutusmu sebagai Nabi dengan kebenaran, sungguh telah aku dengan ungkapan ini dari malaikat yang berkata dilangit ke empat ketika diberikan kepada kunci ini. Imam Ja'far Shadiq berkata: Siapa yang zuhud terhadap dunia, Allah akan tetapkan didalam hatinya hikmah [ilmu] dan ia akan berbicara dengan ilmu itu, serta akan diperlihatkan kepadanya keaiban dunia, penyakit dan obatnya sekaligus dan dia akan keluar dari dunia ini dengan selamat menuju negeri akhirat.
Dalam mensikapi dunia ini manusia terbagi kepada tiga golongan. Pertama, Orang yang zuhud terhadap dunia. Kedua, orang yang sabar. Dan ketiga, orang yang mencari dunia. Orang yang zuhud adalah mereka yang dari dalam hatinya keluar rasa duka dan bahagia, ia tidak senang dengan memperoleh sesuatu di dunia ini dan tidak pula kecewa dan sedih saat sesuatu itu meninggalkan dirinya. Seorang yang zuhud ia akan mencari dan mengejar prestasinya semaksimal mungkin dengan niat karena Allah Swt. Saat ia memperoleh nikmat, baik berupa harta, tahta maupun wanita ia tidak bangga dengan apa yang ada di genggamannya. Namun semuanya itu diwujudkan dalam mencari keridhaan Allah Swt. Artrinya ia tidak menjadi senang dengan kesenangan dunia, namun ia senang apabila apa yang dimilikinya itu dapat dijalankan sesuai dengan bimbingan Allah Swt. Demikian pula sebaliknya, apabila harta, tahta dan wanita yang ada disekelilingnya itu pergi meninggalkannya, ia tidak merasa sedih dan kecewa sedikitpun, karena semua yang dimilikinya merupakan amanat Allah kepada dirinya. Pendek kata ia tidak menjadi angkuh dan sombong saat berpunya dan tidak menjadi sedih dan sengsara bahkan menjadi minder ketika tidak memiliki apa-apa. Orang yang sabar adalah mereka yang hatinya selalu berharap kepada Allah Swt, apabila hatinya cenderung kepada keburukan, ia menahannya dan apabila kebaikan bertambah dalam hatinya, ia semakin tawadhu. Sabar ada tiga bentuk, pertama, sabar saat mendapat musibah, kedua sabar saat menjalankan perintah Allah dan ketiga sabar ketika memperoleh nikmat. Orang yang sabar adalah mereka selalu harapan hatinya tertumpahkan hanya kepada Allah Swt. Saat ia mendapat musibah hatinya sabar dan tersenyum, saat menjalankan perintah Allah, seperti shalat, zakat, puasa, haji dan berbagai ibadah sosial, ia sabar melakukannya dengan penuh kesungguhan dan kerja keras. Demikian pula saat ia memperoleh nikmat ia sabar menjaga hati dan prilakunya agar tidak menjadi lupa diri dan sombong dengan nikmat yang ada ditangannya. Mereka yang sabar selalu mengontrol hati dan jiwanya dari berbagai kecenderungan yang salah dan menahan diri dari prilaku yang tidak diridahi Tuhan. Sedangkan para pencari dunia adalah mereka yang tidak perduli halal dan haram dalam mencari kenikmatan hidupnya. Golongan ketiga ini adalah mereka yang tujuan hidupnya adalah kebahagiaan dunia. Inilah yang Rasulallah Saw katakan, dunia adalah rumah bagi mereka yang tidak mempunyai rumah. Ia mengejar kebahagiaan dunia dan melupakan kebahagiaan akhirat. Membangun singgasana dunia dan merobohkan tempat kembalinya di akhirat.
Dunia yang tercela [al dunya al madzmumah] bukan prestasi, kekayaan dan berbagai materi dunia, tetapi kecenderungan hati terhadap segala sesuatu yang melupakan diri kepada Allah Swt. Semua pekerjaan, prestasi, kekayaan dan sebagainya yang menyebabkan jauh dari Allah disebut dunia yang tercela. Sedangkan semua pekerjaan, prestasi dan harta apa saja yang mengantarkan kepada keridhaan Tuhan disebut amal akhirat.
----------------------- bersambung

0 Comments:

Post a Comment

<< Home